Senin, 09 Agustus 2010

Jalan Santai 2010

1 komentar
Dalam rangka memperingati HUT RI ke 65, Desa Sukoharjo mengadakan jalan santai yang diikuti oleh semua warga. Karena menjelang 17 Agustus bertepatan dengan puasa bulan Ramadhan, maka hanya satu saja kegiatan yang diadakan oleh desa Sukoharjo yaitu jalan santai.



Seperti tahun-tahun sebelumnya banyak hadiah yang disediakan oleh panitia. Hadiah utama sebuah sepeda, hadiah kedua sepeda anak, hadiah ketiga magic jar, kipas angin 2 buah, blender, setrika 2 buah dan beberapa hadiah hiburan lainnya seperti gantungan baju, sapu, keset, detergernt, sabun, dan lain-lain..

Hadiah –hadiah tersebut merupakan sumbangan dari warga, atas kepedulian mereka dalam rangka memperingati HUT RI. Kayaknya tidak perlu disebutkan satu persatu siapa saja mereka, karena sumbangan tersebut adalah ikhlas tanpa ada maksud untuk di publikasikan.
Pelaksanaan jalan santai dimulai pukul 06.00 WIB dengan rute melewati jalan-jalan yang ada di desa Sukoharjo, dan melewati desa sebelah yaitu desa Kabongan Kidul.
Start dan finish di depan balai desa Sukoharjo.

Setelah lelah mengelilingi kampung, warga disediakan menu sarapan pagi nasi uduk. Meskipun cukup sederhana tapi meriah. Dan saat yang ditunggu warga adalah pembagian door prise, sambil menunggu warga dihibur dengan organ tunggal.
Diharapkan kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan tiap tahun, dan menjadi tradisi.

Kamis, 05 Agustus 2010

Studi Banding

0 komentar
Kayaknya tidak anggota Dewan atau pejabat saja yang hobi studi banding... Baru-baru ini BKM se Kab. Rembang mengadakan studi banding ke Yogja. Tentunya ada alasannya kenapa harus ke Yogja. Selain mungkin karena dianggap BKM di Yogaja sudah maju, juga karena kota tersebut sebagai tempat tujuan wisata.



Jujur saja studi banding tentunya tidak sampai berhari-hari, setengah hari saja sudah cukup. Nah, waktu yang tersisa kan bisa untuk refreshing... Untuk menghibur para anggota BKM dan juga Faskel yang kadang-kadang sirahe ngelu karena banyak permasalahan yang harus dihadapi di desa masing-masing.



Lalu bagaimana dengan hasil studi banding tersebut? Apa yang bisa diterapkan oleh para Faskel dan juga para BKM untuk kemajuan desanya?
Tentunya karena Yogja adalah tempat wisata, banyak yang bisa dibantu oleh BKM untuk menyalurkan kredit melalui UPK. Salah satunya adalah para pedagang. Dengan bantuan modal para pedagang yang tersebar di tempat-tempat kunjungan wisatawan dapat meningkatkan pendapatannya.



Apakah hal tersebut bisa diterapka di Kab. Rembang yang potensi wisatanya kalah jauh dibanding dengan Yogja. Itu yang perlu pemikiran lagi.
Karena selama ini bantuan modal dari BKM lewat UPK bukan untuk penambahan modal, tapi hanya untuk konsumsi. Artinya setelah pinjaman didapat, maka dibelanjakan kebutuhan sehari-hari. Soal membayar angsuran, itu soal belakang....

Pembuatan Jalan Aspal

0 komentar

Mengingat jalan di depan Balai Desa sudah lama mengalami kerusakan, sementara belum ada dana ntuk memperbaikinya, baik itu dari pemerintah daerah atau dari ADD, apalagi jalan itu adalah jalan desa, jadi kemungkinan dari pemerintah daerah untuk memperbaikinya sangatlah kecil.

BKM kemudian cawe-cawe. Setelah mengumpulkan beberapa tokoh masyarakat dan dengan persetujuan dari Kades beserta perangkatnya, dibentuk KSM yang akan memperbaiki jalan desa tersebut.

Sesuai kesepakatan nama KSM tersebut adalah Kasingan. Memang sengaja disamakan dengan nama dukuh, karena lokasi jalan tersebut di dukuh Kasingan. Dengan ketua KSM Bpk HM. Anshori, seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani.

Setelah membuat proposal, dana bantuan yang disetujui oleh P2KP adalah sebesar Rp. 28,5 juta. Dan perkiraan dana swadaya yang dapat diserap adalah Rp. 5,26 juta.

Dapat anda bayangkan, dana Rp. 28,5 juta untuk membuat jalan aspal hotmix sepanjang 275 m dan lebar 2,5 m. Cukupkah? Dengan sedikit nekad, KSM bersedia mengerjakan.

Kenapa nekad? Yo wis, ngko nek danane gak cukup, goleke utang-utangan.. ngko faskele ketak’i, wg ngitung rego ae selisih kabeh.. begitu kata ketua KSM Kasingan. Selain itu, dalam MP2K, terjadi sedikit kekisruhan. Sebabnya karena faskel dari awal ngomong tentang pengadaan aspal yang harus melalui proses lelang. Karena warga Kasingan rata-rata punya pengetahuan yang luas tentang apa itu lelang, tentu saja melakukan protes dengan sistem yang dipakai oleh P2KP dalam melakukan proses lelang, karena dianggap tidak wajar, tidak sesuai dengan pakem yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Karena tidak bisa menjelaskan atau mungkin kurang pengetahuan tentang hal tersebut, salah satu faskel ngomong tentang pembuatan jalan aspal itu belum tentu usulan dari warga, tapi mungkin dari orang-orang yang terpandang di desa atau tokoh masyarakat saja.

Kontan saja pernyataan tersebut mengundang rekasi dari peserta rapat yang kebetulan adalah para tokoh masyarakat, Ketua BPD, Ketua RW, Ketua RT, dan juga Kades beserta perangkat. Intinya, warga tidak terima dengan pernyataan tersebut, karena bagaimanapun juga, Kades, perangkat, BPD, Ketua RW, Ketua RT, itu adalah wakil dari masyarakat. Karena yang memilih mereka adalah juga masyarakat. Jadi kehadiran mereka adalah juga kehadiran warga masyarakat.

Setelah faskel menarik omongannya tadi dan meminta maaf, akhirnya pertemuan dapat dilanjutkan, dan diambil keputusan pengerjaan jalan aspal dapat dikerjakan.

Lalu bagaimana komentar masyarakat yang mengetahui dana yang digunakan untuk aspal tersebut ternyata cuma sedikit? Matoh…. Begitu kata warga yang kebetulan termasuk orang yang tahu tentang proyek dan juga sudah lama berkecimpung dalam proyek pemerintah. Jalan itu seharusnya butuh dana paling sedikit Rp. 40 juta, katanya.

Lalu bagaimana dengan kualitas jalan tersebut? Boleh di cek, ternyata hasilnya tidak mengecawakan, meskipun panitia sirahe ngelu.