Jumat, 30 Desember 2011

TKP

0 komentar

Bukan ikut-ikutan acara di salah satu stasiun TV swasta, "Kita langsung ke TKP...", tapi yang ini betul-betul TKP yang kehadirannya sungguh sangat diharapkan oleh para Kepala Desa dan perangkat desa. Tunjangan Kepala Desa dan Perangkat Desa atau TKP, oleh para Katdes diplesetkan menjadi Tunjangan Kurang Penghasilan. Bagaimana tidak, gaji (kalau boleh disebut gaji), ya TKP itu sebulan Rp. 250.000,- masih dipotong pajak. Itu saja pembayarannya tidak sebulan sekali tapi dibayarkan tri wulan atau 3 bulan sekali.

Belum lagi kalau APBD defisit, jatah anggaran untuk para Katdes di bon dulu untuk membayar pos lain. Seperti tahun 2010 kemarin, anggaran untuk TKP dipakai dulu untuk membiayai klub sepakbola (kebanggaan..?) masyarakat Rembang, PSIR. Alhasil TKP jadi mundur pembayaraannya, bahkan sampai 9 bulan. Tahun 2011 ini entah untuk membiayai apa lagi, yang jelas sampai saat ini untuk TKP bulan September-Desember 2011 belum ada tanda-tanda akan cair. Apakah akan keluar awal 2012, atau malah hangus sama sekali..

Khusus untuk desa yang tidak berbengkok, di Kecamatan Rembang ada 7 desa, ada lagi tunjangan non bengkok yang turun 6 bulan sekali sebesar Rp. 350.000,- perbulan. Jadi total pendapatan para Katdes perbulan adalah Rp. 600.000,-. Apakah dengan penghasilan sebesar itu, apalagi kalau diterima tidak tiap bulan, cukup untuk menghidupi keluarga..? Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada Katdes yang miskin.. Meskipun kriteria miskin masih simpang siur. Belum lagi kita tidak tahu bagaimana polah para katdes dalam menghidupi keluarganya dengan mencari penghasilan diluar statusnya sebagai Katdes.

Sering ada kritik kepada para Katdes, Balai Desa sering tutup, do mergawe pora.. Perangkat Desa juga manusia, mereka juga butuh makan, butuh biaya untuk menghidupi keluarganya. Dengan penghasilan sebagai Katdes yang sangat minim, tentu mereka juga perlu dan harus mencari nafkah di tempat lain.

Seorang Katdes di Kec. Rembang dengan bercanda mengatakan: Biaya Hidup ku : Rokok meskipun SUKUN Putih Rp. 7.000/hari, Ngopi sehari dua kali Rp 2.000/cangkir, Pulsa tiap isi Rp 6.000 paling banter u/ 4 hari, Bensin Rp. 5.000 (isi mung seliteran) nggo 3 hari, makan sehari tiga kali (di warung) Rp. 5.000/porsi. So kalo dihitung2 Biaya Hidupku per bulan Rp.812.000. Padahal aku dapat Penghasilan yang RESMI dari Perangkat Desa Rp 600.000, ITUPUN KADANG DIBON dulu. BERARTI kata Guruku Bhs Indonesia klas 4 SD dulu "BESAR PASAK DARI PADA TIANG". Bagaimana ini?

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar